MAKASSAR — Ada ruang di perpustakaan yang tidak hanya menghadirkan buku dan sumber informasi, tetapi juga menyediakan tempat untuk beristirahat, berbincang, dan bertukar pikiran. Bagi sejumlah mahasiswa disabilitas Universitas Hasanuddin (Unhas), Braille Corner menjadi salah satu ruang yang memiliki makna tersebut. Di sana, perpustakaan bukan semata-mata tempat belajar, melainkan juga ruang perjumpaan yang menumbuhkan rasa nyaman dan kebersamaan.

Suasana itu terasa pada Kamis, 15 Oktober 2026, ketika tim peneliti dan staf Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UIN Raden Mas Said Surakarta mengunjungi Braille Corner Perpustakaan Universitas Hasanuddin. Kedatangan mereka disambut oleh sejumlah mahasiswa disabilitas Unhas bersama para relawan Pusat Disabilitas (Pusdis) Universitas Hasanuddin.

Di tengah perjumpaan tersebut, percakapan mengenai ruang yang nyaman dan ramah bagi mahasiswa disabilitas menjadi salah satu hal yang menarik perhatian. Beberapa pengunjung menyampaikan bahwa ruang-ruang di Perpustakaan Unhas terasa cukup nyaman bagi mahasiswa difabel. Pengalaman ini memperlihatkan bahwa kenyamanan sebuah ruang tidak hanya ditentukan oleh fasilitas fisiknya, tetapi juga oleh kesempatan bagi setiap orang untuk menggunakannya, berinteraksi, dan merasa menjadi bagian dari lingkungan akademik.

Perjumpaan yang Membuka Pengalaman Baru
Tim LPPM UIN Raden Mas Said Surakarta terdiri atas delapan orang dengan tanggung jawab yang beragam. Mereka adalah Dr. Aris Widodo, M.Ag., Kepala Pusat Penelitian dan HKI; Dr. Akhmad Anwar Dani, M.Sos.I., Kepala Pusat Pengabdian kepada Masyarakat; Yunika Triana, M.Pd., Kepala Pusat Penerbitan; Aufa Rizka Azzumi, M.M., staf Pusat Disabilitas; Siti Maftukhah, M.M., Kepala Subbagian Tata Usaha LPPM; Wihangesty, S.E., staf Pusat Disabilitas; Astutik Fadhilah, S.E., pengelola KKN; serta Mulyanta, S.Pd., staf LPPM.

Kunjungan tersebut menghadirkan kesempatan bagi para tamu untuk melihat secara langsung salah satu ruang layanan yang berkaitan dengan aksesibilitas dan kenyamanan mahasiswa disabilitas di lingkungan perguruan tinggi. Di sisi lain, perjumpaan ini juga membuka ruang interaksi antara pengelola dan komunitas kampus yang memiliki pengalaman dalam membangun lingkungan belajar yang lebih inklusif.

Bagi perpustakaan perguruan tinggi, pengalaman semacam ini memiliki arti penting. Layanan yang inklusif bukan hanya tentang menyediakan akses terhadap koleksi, melainkan juga memastikan bahwa mahasiswa dengan kebutuhan yang beragam dapat merasa diterima dan memperoleh kesempatan untuk berpartisipasi dalam kehidupan akademik.

Saskia dan Pengalaman Menjadi Relawan
Di antara orang-orang yang menyambut para tamu, ada Saskia Azzahra, mahasiswa Departemen Bahasa dan Sastra Indonesia yang menjadi relawan Pusdis Unhas. Ia mengaku senang dengan kedatangan tamu dari luar kampus. Bagi Saskia, perjumpaan seperti ini menjadi pengalaman yang menyenangkan, terlebih karena ia baru bergabung dengan Pusat Disabilitas Unhas sekitar satu bulan.

Pengalaman Saskia menggambarkan bahwa keterlibatan dalam kegiatan inklusi dapat dimulai dari langkah sederhana: hadir, menyambut, mendengarkan, dan membangun komunikasi dengan orang lain. Meski baru bergabung, kesempatan untuk berinteraksi dengan pengunjung dari perguruan tinggi lain menjadi bagian dari pengalamannya sebagai relawan.

Dalam lingkungan pendidikan tinggi, relawan memiliki peran yang berarti dalam mendukung terciptanya suasana yang terbuka dan bersahabat. Kehadiran mereka membantu membangun hubungan sosial yang memungkinkan mahasiswa disabilitas beraktivitas dan berinteraksi dengan lebih nyaman.

Perjumpaan di Braille Corner pun menunjukkan bahwa upaya membangun inklusi tidak hanya berlangsung melalui kebijakan atau penyediaan fasilitas. Ia juga tumbuh melalui hubungan antarmanusia, kepedulian, serta kemauan untuk memahami pengalaman orang lain.

Braille Corner sebagai Ruang Berbagi Gagasan
Nasri A. Muhammad Abduh dari Public Relations Unhas Library menjelaskan bahwa Braille Corner kerap dimanfaatkan oleh mahasiswa disabilitas. Menurutnya, ruang tersebut jarang sepi karena menjadi tempat bagi mereka untuk beristirahat, berdiskusi, serta berbagi pikiran dan gagasan.

Fungsi tersebut memperlihatkan sisi lain dari keberadaan perpustakaan di lingkungan perguruan tinggi. Perpustakaan tidak hanya berperan sebagai penyedia sumber informasi dan pengetahuan, tetapi juga dapat menjadi ruang sosial yang mendukung interaksi, pertukaran gagasan, dan tumbuhnya rasa kebersamaan.

Bagi mahasiswa disabilitas, ruang yang nyaman untuk beristirahat dan berdiskusi dapat menjadi bagian penting dari pengalaman mereka di kampus. Mereka tidak hanya membutuhkan akses terhadap bahan bacaan dan informasi, tetapi juga lingkungan yang memungkinkan mereka membangun relasi, menyampaikan pendapat, dan berpartisipasi dalam kegiatan akademik.

Dalam konteks ini, Braille Corner menjadi salah satu wujud upaya menghadirkan layanan perpustakaan yang memperhatikan keberagaman kebutuhan penggunanya. Makna ruang tersebut tidak berhenti pada fasilitas yang tersedia, tetapi juga pada aktivitas dan hubungan yang tumbuh di dalamnya.

Merawat Semangat Inklusi dari Ruang Perpustakaan
Kunjungan tim LPPM UIN Raden Mas Said Surakarta menjadi kesempatan untuk mempertemukan pengalaman dan perhatian terhadap layanan bagi mahasiswa disabilitas. Kehadiran para tamu, sambutan mahasiswa disabilitas, serta keterlibatan relawan memperlihatkan bahwa ruang inklusif dapat menjadi titik awal bagi percakapan yang lebih luas tentang akses terhadap pengetahuan dan kehidupan akademik yang setara.
Pada akhirnya, perpustakaan yang ramah bukan hanya perpustakaan yang memiliki koleksi lengkap atau fasilitas yang memadai. Perpustakaan juga merupakan tempat setiap orang dapat merasa diterima, menemukan ruang untuk mengembangkan diri, dan berbagi pemikiran dengan sesama.

Di Braille Corner Perpustakaan Universitas Hasanuddin, makna itu hadir melalui hal-hal sederhana: ruang untuk beristirahat, kesempatan untuk berdiskusi, relawan yang menyambut dengan gembira, serta tamu yang datang untuk mengenal pengalaman dari lingkungan kampus lain.

Sebab, inklusi tidak hanya dibangun dengan menyediakan ruang bagi semua orang. Inklusi juga tumbuh ketika setiap orang memperoleh kesempatan untuk hadir, didengar, dan menjadi bagian dari komunitas. Di situlah perpustakaan menemukan salah satu makna terpentingnya: bukan sekadar menyimpan pengetahuan, melainkan membuka ruang bagi manusia untuk saling belajar dan bertumbuh bersama.