Makassar, 16 September 2026 — Sekitar 35 siswa bersama empat guru pendamping dari SMAS Islam Terpadu melakukan kunjungan studi komparatif (Literacy Tour) ke Perpustakaan Universitas Hasanuddin, Rabu (16/9/2026). Datang dari Takalar menuju Makassar, rombongan membawa semangat untuk mengenal lebih dekat dunia perpustakaan perguruan tinggi sekaligus memperluas pengalaman literasi di luar lingkungan sekolah.

Rombongan diterima secara resmi oleh Kepala Perpustakaan Universitas Hasanuddin, Prof. Dr. Munira Hasjim, M.Hum., di Lounge Ruang Rapat Perpustakaan Unhas. Pertemuan tersebut berlangsung dalam suasana hangat dan terbuka, menjadi awal dari kegiatan kunjungan yang kemudian dilanjutkan dengan library tour ke sejumlah fasilitas dan layanan unggulan Perpustakaan Unhas.

Kunjungan ini memberikan kesempatan kepada para siswa untuk melihat secara langsung bagaimana sebuah perpustakaan perguruan tinggi dikelola dan dimanfaatkan sebagai pusat pembelajaran. Setelah acara penerimaan, rombongan diajak mengunjungi sejumlah titik layanan, mulai dari layanan sirkulasi, layanan koleksi khusus, ruang kerja mandiri, hingga berbagai corner yang menjadi bagian dari kekayaan layanan Perpustakaan Unhas.

Para siswa juga diperkenalkan dengan sejumlah fasilitas yang memiliki karakter internasional dan berbasis teknologi, di antaranya Chinese Cultural Activity Center dan Digital Corner. Mereka memperoleh gambaran bahwa perpustakaan masa kini tidak lagi sekadar identik dengan rak-rak buku, tetapi juga menyediakan ruang pembelajaran, akses informasi digital, pengenalan budaya, serta fasilitas yang memungkinkan pemustaka belajar secara mandiri.

Salah satu fasilitas yang turut menarik perhatian rombongan adalah Unhasiana Corner. Melalui ruang ini, para siswa diperkenalkan dengan berbagai informasi dan koleksi yang berkaitan dengan Universitas Hasanuddin. Kunjungan tersebut menjadi pengalaman tersendiri bagi siswa untuk melihat bagaimana perpustakaan juga berperan dalam menjaga dan memperkenalkan khazanah intelektual serta identitas sebuah perguruan tinggi.

Pihak sekolah menyampaikan rasa bahagia dan apresiasi karena dapat melakukan studi komparatif di Perpustakaan Universitas Hasanuddin. Sambutan terbuka yang diberikan pihak perpustakaan menjadi kesan tersendiri bagi rombongan yang datang dari Takalar.

“Kami sangat bahagia bisa melakukan studi komparatif di Perpustakaan Universitas Hasanuddin dan diterima dengan terbuka. Kami berharap tujuan kami datang jauh-jauh dari Takalar ke Makassar ini dapat tercapai dengan baik dan maksimal,” ungkap pihak sekolah.

Selama mengikuti Literacy Tour, rombongan didampingi oleh sejumlah pustakawan Perpustakaan Unhas, yaitu Nuraeda, Nurul Fitrihasari, Suci, dan Andi Dila. Para pustakawan tersebut memandu siswa dan guru pendamping dari satu fasilitas ke fasilitas lainnya sekaligus memberikan penjelasan mengenai fungsi dan pemanfaatan berbagai layanan yang tersedia.

Bagi para siswa, kunjungan tersebut bukan sekadar perjalanan melihat-lihat fasilitas perpustakaan. Kegiatan ini menjadi pengalaman belajar yang mempertemukan mereka secara langsung dengan lingkungan akademik perguruan tinggi. Dari ruang layanan hingga corner internasional dan fasilitas digital, siswa mendapatkan gambaran mengenai berbagai kemungkinan ruang belajar dan sumber informasi yang kelak dapat mereka manfaatkan ketika melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.

Kehadiran siswa dari Takalar juga memperlihatkan bahwa semangat literasi dapat melampaui batas ruang dan jenjang pendidikan. Sekolah dan perguruan tinggi dapat saling terhubung melalui kegiatan kunjungan, berbagi pengalaman, serta pengenalan fasilitas dan budaya akademik. Dalam konteks tersebut, perpustakaan menjadi salah satu pintu yang mempertemukan generasi muda dengan dunia pengetahuan yang lebih luas.

Bagi Perpustakaan Universitas Hasanuddin, kunjungan seperti ini menjadi bagian dari komitmen untuk membuka perpustakaan sebagai ruang belajar bagi masyarakat pendidikan. Perpustakaan tidak hanya hadir untuk sivitas akademika Unhas, tetapi juga dapat menjadi tempat bagi siswa untuk mengenal budaya membaca, mengembangkan rasa ingin tahu, dan memperoleh pengalaman awal tentang kehidupan akademik di perguruan tinggi.

Perjalanan dari Takalar ke Makassar akhirnya menemukan maknanya bukan hanya pada tempat yang dikunjungi, tetapi pada pengalaman yang dibawa pulang. Para siswa kembali dengan cerita tentang ruang-ruang perpustakaan, teknologi, koleksi, budaya, dan suasana akademik yang mereka temui. Dari sebuah Literacy Tour, tumbuh harapan agar pengalaman hari itu menjadi salah satu langkah kecil menuju budaya literasi yang lebih kuat dan kecintaan terhadap ilmu pengetahuan di masa depan.