Makassar, 21 Agustus 2026 — Ada masa ketika kehidupan kemahasiswaan tidak hanya berlangsung di ruang kuliah, tetapi juga tumbuh subur di lorong-lorong kampus, ruang diskusi, sanggar mahasiswa, hingga lapangan tempat gagasan dan keberanian dipertemukan. Romantisme itulah yang kembali dihadirkan dalam kegiatan Exlibris Universitas Hasanuddin, Jumat (21/8/2026), melalui bedah buku Dinamika, Reformasi, dan Transformasi BEM-UH. Kegiatan yang digelar secara daring melalui Instagram Perpustakaan Universitas Hasanuddin tersebut menghadirkan Prof. Dr. Amran Razak sebagai pembicara dan menjadi ruang refleksi tentang perjalanan panjang dunia kemahasiswaan Universitas Hasanuddin dari Kampus Baraya hingga Tamalanrea.
Obrolan yang berlangsung santai dan akrab tersebut dipandu oleh Anshar Saud, Sekretaris Perpustakaan Universitas Hasanuddin. Dengan gaya percakapan yang ringan, diskusi mengajak pemustaka menengok kembali dinamika kehidupan mahasiswa yang pernah mewarnai perjalanan Universitas Hasanuddin. Dari ruang-ruang diskusi sederhana yang terkadang harus berlangsung dengan kewaspadaan karena “diintip intel” di Sanggar A.P. Pettarani, hingga riuhnya aksi mahasiswa di Lapangan Catur dan kawasan lapangan olahraga-PKM Tamalanrea, semuanya menjadi bagian dari mosaik sejarah gerakan mahasiswa yang direkam dalam buku tersebut.

Dalam pembahasannya, Prof. Dr. Amran Razak menempatkan Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas (BEM-U) bukan sekadar organisasi kemahasiswaan, melainkan sebagai laboratorium kepemimpinan. Di dalamnya, idealisme diasah, kemampuan bernegosiasi dilatih, dan keberanian ditempa melalui pengalaman nyata. BEM menjadi ruang bagi mahasiswa untuk belajar menyampaikan gagasan, menghadapi perbedaan pandangan, membangun konsensus, sekaligus memahami bagaimana sebuah organisasi dapat menjadi representasi suara mahasiswa.
Namun, di balik romantisme perjalanan tersebut, terselip kegelisahan yang tidak mudah diabaikan. Ketika BEM-U belum juga terbentuk, ruang representasi dan suara mahasiswa seakan mengalami kekosongan. Kampus seperti kehilangan salah satu denyut kritisnya. Pertanyaan tentang siapa yang menyuarakan aspirasi mahasiswa, bagaimana tradisi berpikir kritis dipelihara, dan ke mana keberanian berorganisasi diarahkan menjadi refleksi yang terasa semakin relevan di tengah perubahan kehidupan kampus dan masyarakat.

Buku Dinamika, Reformasi, dan Transformasi BEM-U dengan demikian tidak berhenti sebagai sebuah memoir tentang perjalanan dunia kemahasiswaan selama kurang lebih lima dekade. Ia menjadi semacam cermin yang memantulkan pengalaman, pergulatan, sekaligus kecemasan kolektif dari generasi-generasi mahasiswa Universitas Hasanuddin. Di dalamnya tersimpan cerita tentang bagaimana organisasi mahasiswa pernah menjadi ruang penting bagi pembentukan karakter intelektual dan kepemimpinan generasi muda.
Menariknya, kisah yang dibicarakan tidak hanya berbicara tentang masa lalu. Ia juga menyentuh persoalan yang masih aktual: bagaimana mempertahankan tradisi berpikir kritis dan keberanian menyampaikan pendapat di tengah perubahan zaman. Pengalaman mahasiswa dari kawasan timur Indonesia pun menjadi bagian penting dalam percakapan tersebut. Suara dan pengalaman yang sering kali berada di luar arus utama justru memiliki kekayaan tersendiri dalam membentuk tradisi intelektual, sosial, dan politik mahasiswa.
Dalam suasana diskusi yang sesekali diselingi kelakar, para peserta diajak mempertanyakan kembali makna organisasi kemahasiswaan bagi generasi hari ini. Apakah perubahan bentuk aktivisme mahasiswa merupakan sebuah keniscayaan zaman? Ataukah berkurangnya ruang organisasi justru menjadi tanda bahwa kesadaran berorganisasi perlahan meredup? Pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak serta-merta diberikan jawabannya, tetapi dibiarkan menjadi bahan renungan bagi siapa saja yang mengikuti perbincangan.

Di sinilah Exlibris Universitas Hasanuddin menemukan maknanya. Kegiatan yang diselenggarakan oleh Perpustakaan Universitas Hasanuddin bukan hanya menjadi forum membedah sebuah buku, tetapi juga ruang untuk mempertemukan memori, gagasan, dan generasi. Buku menjadi pintu masuk untuk berbicara tentang sejarah, sementara pengalaman para pelakunya menjadi jembatan untuk memahami perubahan kehidupan akademik dan kemahasiswaan dari masa ke masa.
Pada akhirnya, kisah BEM-UH terasa seperti secangkir kopi yang telah lama dingin: mungkin hangatnya telah berlalu, tetapi rasanya masih tertinggal lama di kepala. Melalui Exlibris, Perpustakaan Universitas Hasanuddin menghadirkan kembali rasa tersebut kepada pemustaka—bukan semata-mata untuk bernostalgia, melainkan untuk mengajak generasi hari ini bertanya: apakah kevakuman organisasi hanyalah sebuah jeda, ataukah ia merupakan tanda meredupnya kesadaran untuk berorganisasi, berpikir kritis, dan berani bersuara?