Yogyakarta – Komitmen Perpustakaan Universitas Hasanuddin dalam meningkatkan kompetensi pustakawan di era transformasi digital kembali diwujudkan melalui keikutsertaan empat orang pustakawan pada Konferensi Perpustakaan Digital Indonesia (KPDI) ke-17 yang berlangsung di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) pada 4–6 Agustus 2026. Forum nasional ini menjadi ruang strategis bagi para pustakawan, akademisi, dan praktisi teknologi informasi untuk berbagi gagasan serta memperkuat kapasitas menghadapi perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dalam dunia perpustakaan.
Konferensi yang diselenggarakan atas kerja sama Forum Perpustakaan Digital Indonesia (FPDI), Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, dan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta tersebut diikuti sekitar 275 peserta yang berasal dari berbagai perpustakaan perguruan tinggi di Indonesia, mulai dari Papua hingga Sumatera Barat. Kehadiran peserta dari berbagai wilayah mencerminkan semangat kolaborasi nasional dalam membangun ekosistem perpustakaan digital yang adaptif, inovatif, dan berdaya saing global.
Tahun ini, konferensi mengusung tema besar yang berfokus pada kesadaran, perilaku, interaksi, dan budaya informasi di era kecerdasan buatan (Artificial Intelligence). Tema tersebut menegaskan bahwa transformasi digital tidak hanya menyangkut pemanfaatan teknologi, tetapi juga perubahan cara berpikir, pola kerja, dan budaya informasi yang berkembang di tengah masyarakat akademik.
Universitas Hasanuddin mengirimkan empat orang delegasi yang terdiri atas Andi Nasri Abduh dan Nasyir Nompo dari Perpustakaan Pusat Universitas Hasanuddin, serta Achmad Adil dari Perpustakaan Fakultas Kesehatan Masyarakat dan Andi Irsan dari Perpustakaan Fakultas Teknik. Keikutsertaan mereka menjadi bagian dari upaya berkelanjutan Perpustakaan Universitas Hasanuddin dalam meningkatkan kompetensi pustakawan sekaligus memperluas jejaring profesional di tingkat nasional.
Berbagai agenda ilmiah mewarnai penyelenggaraan konferensi, mulai dari Call for Papers, lokakarya, workshop, diskusi panel, hingga cultural tour yang memperkenalkan kekayaan budaya Yogyakarta kepada para peserta. Untuk pertama kalinya, penyelenggara juga menghadirkan Software Clinic, sebuah layanan konsultasi mengenai pengelolaan repositori institusi dan sistem otomasi perpustakaan, serta menggelar Kompetisi Portal Website Perpustakaan, yang menjadi inovasi baru dalam penyelenggaraan KPDI.
Salah satu sesi yang paling menarik perhatian peserta adalah pemaparan Hardika, S.Pd., M.Sc., dosen Universitas Muhammadiyah Surakarta, yang membawakan materi berjudul “Smart Writing with AI: Optimalisasi Penulisan Karya Ilmiah di Era Digital.” Dalam paparannya, ia menjelaskan bagaimana kecerdasan buatan dapat dimanfaatkan secara etis untuk mendukung proses penulisan akademik, mulai dari pencarian referensi, penyusunan kerangka tulisan, penyuntingan bahasa, hingga penguatan argumentasi ilmiah tanpa menghilangkan integritas akademik penulis.
Konferensi ini juga menghadirkan Tom Reger, Professor of Practice dari Rochester Institute of Technology, yang membagikan perspektif internasional mengenai transformasi perpustakaan digital, pengembangan literasi informasi, serta pentingnya membangun budaya berpikir kritis di tengah pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan. Berbagai pengalaman yang dibagikan memberikan inspirasi bagi peserta untuk terus mengembangkan layanan perpustakaan yang relevan dengan kebutuhan generasi digital.
Sementara itu, dua keynote speaker nasional, Prof. Dr. H. Dadang Kahmad, M.Si., Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Bidang Pustaka, dan Prof. E. Aminudin Aziz, M.A., Ph.D., Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, menegaskan bahwa perpustakaan memiliki peran strategis dalam membangun masyarakat yang cerdas, kritis, dan adaptif terhadap perubahan teknologi. Menurut mereka, kehadiran AI hendaknya dipandang sebagai peluang untuk memperkuat layanan informasi dan meningkatkan kualitas pembelajaran sepanjang hayat.
Salah seorang delegasi Universitas Hasanuddin, Andi Nasri Abduh, menilai bahwa konferensi ini memberikan pengalaman yang sangat berharga, khususnya dalam memahami pemanfaatan AI untuk mendukung penulisan ilmiah. Menurutnya, penguasaan smart writing harus dibarengi dengan kemampuan berpikir kritis agar pustakawan dan akademisi tidak sekadar bergantung pada teknologi, tetapi tetap mampu melakukan analisis, verifikasi, dan menghasilkan karya ilmiah yang orisinal serta bertanggung jawab.
Keikutsertaan empat pustakawan Universitas Hasanuddin dalam Konferensi Perpustakaan Digital Indonesia ke-17 diharapkan mampu memperkaya wawasan sekaligus menghadirkan berbagai inovasi baru dalam pengembangan layanan perpustakaan di lingkungan Universitas Hasanuddin. Pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh selama konferensi akan menjadi bekal untuk memperkuat layanan digital, meningkatkan literasi informasi, serta mendukung budaya riset dan publikasi ilmiah di lingkungan kampus.
Melalui partisipasi aktif dalam forum nasional ini, Perpustakaan Universitas Hasanuddin kembali menegaskan komitmennya untuk terus mengembangkan pustakawan yang adaptif terhadap perubahan zaman, menguasai teknologi kecerdasan buatan secara bijaksana, dan mampu menghadirkan layanan informasi yang inovatif. Di tengah pesatnya perkembangan AI, perpustakaan tidak hanya dituntut menjadi pusat akses informasi, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran yang menumbuhkan keterampilan berpikir kritis, kreativitas, dan integritas akademik, sehingga mampu melahirkan generasi pembelajar yang siap menghadapi tantangan masa depan.