UNHAS — Di tengah semakin mudahnya mahasiswa mengakses buku elektronik, jurnal daring, dan berbagai sumber informasi digital, keberadaan koleksi cetak di perpustakaan tetap menyisakan ruang diskusi yang menarik. Apakah buku cetak akan kehilangan relevansinya ketika teknologi digital semakin mendominasi kehidupan akademik? Pertanyaan inilah yang menjadi salah satu perhatian dalam kegiatan Library Weekly English Discussion Perpustakaan Universitas Hasanuddin (Unhas), Senin, 26 Oktober 2026, yang mengangkat tema pentingnya sumber-sumber informasi cetak.
Diskusi berlangsung di Ruang Baca Koleksi Disertasi, lantai tiga Perpustakaan Unhas, dipandu oleh Nasri A. Muhammad Abduh, pustakawan yang juga pengajar Bahasa Inggris pada Mata Kuliah Umum (MKU) di Universitas Hasanuddin. Kegiatan ini menjadi ruang bagi peserta untuk melatih kemampuan berbahasa Inggris sekaligus bertukar pandangan mengenai perkembangan sumber informasi dan peran perpustakaan dalam mendukung kegiatan akademik. Hadir sebagai peserta, Yutaka, mahasiswa Program Studi Ilmu Sosiologi angkatan 2023, serta Muhammad Daud Ibrahim dan Billy, mahasiswa Program Studi Sastra Inggris, Fakultas Ilmu Budaya, angkatan 2023.
Tema diskusi ini relevan dengan perubahan kebiasaan mahasiswa dalam mencari dan menggunakan sumber informasi. Kemudahan mengakses koleksi digital membuat banyak pengguna semakin mengandalkan bahan bacaan elektronik untuk mengerjakan tugas, menyusun makalah, dan mendukung penelitian. Namun, perubahan tersebut juga memunculkan pertanyaan mengenai posisi buku dan sumber tercetak dalam proses belajar. Di satu sisi, format digital menawarkan kecepatan pencarian, kemudahan akses, dan kepraktisan penyimpanan. Di sisi lain, koleksi cetak tetap menyediakan pengalaman membaca yang berbeda serta dapat menjadi pilihan bagi pengguna yang membutuhkan konsentrasi dan interaksi langsung dengan bahan bacaan.
Dalam diskusi tersebut, Muhammad Daud Ibrahim mengangkat pandangan yang dikaitkan dengan ilmuwan perpustakaan Amerika, Prof. David Lankes, mengenai pentingnya mutu layanan perpustakaan. Menurut gagasan yang disampaikan Daud, pengembangan koleksi tidak seharusnya menjadi satu-satunya perhatian utama perpustakaan; peningkatan kualitas layanan atau services justru perlu mendapat perhatian besar. Pandangan ini membuka pembahasan tentang bagaimana perpustakaan dapat menempatkan kebutuhan pemustaka sebagai pusat pengembangan layanan. Koleksi yang baik tetap penting, tetapi manfaatnya akan semakin besar apabila didukung oleh layanan yang membantu pengguna menemukan, memahami, mengevaluasi, dan memanfaatkan informasi secara efektif. Catatan: Pernyataan tersebut merupakan pandangan yang dikemukakan peserta dalam diskusi, bukan kutipan langsung dari karya Prof. Lankes.
Sementara itu, Yutaka berpandangan bahwa koleksi cetak dan elektronik tidak perlu dipertentangkan. Menurutnya, kedua format tersebut dapat saling mendukung sesuai kebutuhan pengguna. Ia mencontohkan adanya perhatian terhadap penggunaan kembali buku cetak di negara-negara Nordik seperti Swedia dan Finlandia. Contoh tersebut mengundang refleksi bahwa kemajuan teknologi tidak selalu berarti meninggalkan format informasi yang lebih lama. Meski demikian, klaim mengenai kebijakan atau imbauan resmi di kedua negara tersebut perlu dirujuk pada sumber yang terverifikasi apabila hendak digunakan sebagai fakta dalam publikasi akademik.
Perbincangan ini menegaskan bahwa pilihan antara sumber cetak dan digital sebaiknya tidak didasarkan pada anggapan bahwa salah satunya selalu lebih unggul. Mahasiswa perlu mempertimbangkan tujuan membaca, karakter bahan, kenyamanan, aksesibilitas, serta kebutuhan untuk memeriksa sumber secara mendalam. Buku cetak dapat mendukung pembacaan yang terfokus dan memudahkan penelusuran fisik suatu teks, sedangkan sumber digital menawarkan kemudahan pencarian dan akses jarak jauh. Bagi perpustakaan, tantangannya adalah menjaga keseimbangan koleksi, meningkatkan kualitas layanan, serta membekali pemustaka dengan kemampuan literasi informasi agar dapat memilih sumber yang tepat dan menilai kredibilitasnya.
Melalui Library Weekly English Discussion, Perpustakaan Unhas tidak hanya menghadirkan ruang untuk berlatih bahasa Inggris, tetapi juga mendorong mahasiswa mengembangkan pemikiran kritis tentang isu-isu yang berkaitan dengan dunia akademik dan kepustakawanan. Diskusi semacam ini diharapkan dapat memperkuat budaya dialog, meningkatkan keberanian menyampaikan pendapat, dan memperluas wawasan mahasiswa tentang pengelolaan informasi. Pada akhirnya, masa depan perpustakaan tidak harus ditentukan oleh pilihan antara buku cetak dan teknologi digital. Keduanya dapat berjalan berdampingan, sementara perpustakaan terus berfokus pada tujuan utamanya: menghubungkan manusia dengan pengetahuan melalui koleksi yang relevan dan layanan yang bermutu.
Untuk menjaga kesinambungan program (kontinuitas) merekapun menetapkan topic diskusi untuk pekan depan yakni Cyberocracy yakni bentuk pemerintahan atau sistem tata kelola di mana teknologi informasi, algoritma, data, dan jaringan komputer memainkan peran utama dalam proses pengambilan keputusan dan administrasi public.