MAKASSAR — Belajar tentang perpustakaan dan pengelolaan informasi tidak selalu harus berlangsung di dalam ruang kuliah. Ada banyak pengetahuan yang baru terasa nyata ketika mahasiswa melihat langsung bagaimana koleksi dikelola, layanan informasi dikembangkan, dan warisan budaya dirawat agar tetap dapat diakses oleh masyarakat. Semangat belajar di luar kampus inilah yang mewarnai kegiatan Eduliteracy Tour mahasiswa Ilmu Perpustakaan dan Sains Informasi, Departemen Ilmu Komunikasi, Universitas Hasanuddin (Unhas), pada Selasa, 20 Oktober 2026.
Sebanyak 30 mahasiswa mengikuti kunjungan pendidikan tersebut dengan didampingi dua orang dosen, yakni Andi Nasri Abduh, dosen yang juga merupakan pustakawan Universitas Hasanuddin, dan Sutrisno. Kegiatan ini dilaksanakan atas izin Ketua Departemen Ilmu Komunikasi Unhas, Prof. Dr. H. Muh. Akbar, M.Si. Sebelum kunjungan berlangsung, Prof. Muh. Akbar menyampaikan bahwa kegiatan tersebut sangat baik dan insyaallah relevan dengan bidang pendidikan mahasiswa. Karena itu, ia mendukung pelaksanaannya melalui surat resmi sebagai dasar dan tujuan kunjungan akademik.
Destinasi pertama rombongan adalah Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Provinsi Sulawesi Selatan. Kedatangan mahasiswa disambut dengan baik oleh Kepala Bidang Perpustakaan DPK Sulsel, Hj. Feby Primajanti, S.Sos., M.Si. Bagi Andi Nasri Abduh, kesempatan membawa mahasiswa belajar langsung di lembaga informasi merupakan pengalaman yang menggembirakan. Ia menyampaikan apresiasi atas sambutan yang diberikan, sekaligus menilai kunjungan lapangan sebagai kesempatan bagi mahasiswa untuk menghubungkan teori yang dipelajari di bangku kuliah dengan praktik pengelolaan perpustakaan.
Dalam sambutannya, Hj. Feby Primajanti mengungkapkan rasa syukur dan kebanggaannya atas kunjungan mahasiswa Universitas Hasanuddin, khususnya dari bidang Ilmu Perpustakaan dan Sains Informasi. Ia memperkenalkan berbagai spot layanan unggulan yang dapat dijelajahi mahasiswa, sekaligus membuka kesempatan bagi mereka untuk bertanya lebih jauh mengenai fungsi dan tujuan setiap layanan. Penjelasan tersebut memberikan gambaran bahwa perpustakaan modern bukan hanya tempat menyimpan dan meminjamkan buku, melainkan lembaga yang mengelola sumber pengetahuan serta menghadirkan layanan informasi untuk memenuhi kebutuhan beragam pemustaka. Setelah sesi pengenalan dan penjelasan layanan, rombongan berfoto bersama. Pada kesempatan tersebut, Hj. Feby juga menerima sertifikat yang diserahkan oleh Afifah selaku Ketua Panitia Eduliteracy Tour.
Usai menjelajahi sejumlah layanan DPK Sulsel, rombongan melanjutkan perjalanan menuju kantor baru Museum La Galigo dan Taman Budaya Sulawesi Selatan, yang berada di lantai dua Perpustakaan Multimedia di Jalan Sultan Alauddin, kawasan Talasalapang, Makassar. Kunjungan ini membuka perspektif lain bagi mahasiswa tentang pengelolaan informasi yang bersumber dari koleksi museum dan warisan budaya. Mereka berkesempatan mengenal konteks pemindahan kantor serta penataan kembali artefak-artefak penting yang sebelumnya dipamerkan ketika Museum La Galigo berkantor di kawasan Benteng Fort Rotterdam, Makassar. Perpindahan lokasi dan penataan koleksi tersebut menjadi pengingat bahwa pelestarian warisan budaya membutuhkan pengelolaan yang cermat agar nilai sejarah dan informasinya tetap terjaga.
Dalam pertemuan dengan pihak dinas dan museum, Andi Nasri Abduh bersama Sutrisno menjelaskan bahwa kunjungan tersebut tidak hanya bertujuan melihat koleksi dan fasilitas secara langsung, tetapi juga memahami bagaimana koleksi diolah, ditata, dan dilayankan kepada masyarakat. Lebih jauh, rombongan ingin mempelajari manajemen lembaga informasi pada kedua unit kerja tersebut, mulai dari pengelolaan sumber informasi hingga penyelenggaraan layanan. Pengalaman ini penting bagi mahasiswa Ilmu Perpustakaan dan Sains Informasi karena kompetensi profesional mereka tidak terbatas pada pengelolaan buku, tetapi juga mencakup pengorganisasian informasi, pelayanan pengguna, pelestarian koleksi, dan pemahaman terhadap berbagai institusi yang mengelola pengetahuan.
Melalui Eduliteracy Tour, mahasiswa memperoleh kesempatan untuk melihat bahwa perpustakaan, museum, dan lembaga kebudayaan memiliki peran yang saling melengkapi dalam menjaga, mengelola, serta menyebarluaskan pengetahuan. Kunjungan ini diharapkan memperkaya wawasan akademik sekaligus menumbuhkan kepekaan mahasiswa terhadap tantangan dan peluang profesi di bidang informasi. Sebab, menjadi calon pustakawan dan profesional informasi bukan hanya tentang memahami teori dan teknologi, tetapi juga tentang mengetahui bagaimana pengetahuan dirawat, bagaimana layanan dibangun, dan bagaimana informasi dihadirkan agar bermakna bagi masyarakat. Dari ruang layanan perpustakaan hingga koleksi museum, perjalanan belajar ini menjadi pengingat bahwa ilmu akan semakin hidup ketika dipertemukan dengan praktik nyata.