Makassar, … September 2024 — Universitas Hasanuddin kembali menggelar kajian buku yang kali ini membahas karya berjudul “Kiri Depan Daeng”. Acara yang diselenggarakan di Lounge Perpustakaan Unhas ini menghadirkan beberapa penulis book chapter kak Luna dan Dr. Lucky Caroles, akademisi dan aktivis yang dikenal dengan pemikiran kritisnya terhadap situasi sosial-politik di Indonesia. Ulasan buku ini dihadiri oleh mahasiswa, dosen, dan pemerhati literatur yang antusias mengeksplorasi tema-tema local seputaran transportasi dalam kota makassar.
Buku ini terdiri dari berbagai catatan pengalaman dan pengetahuan warga Kota Makassar tentang transformasi Kota Makassar yang dilihat dari kacamata kebutuhan bergerak dan berkendara di kota, serta evolusi moda transportasi publik merespon hal ini. Hal ini penting diperhitungkan dalam upaya menelusuri temuan-temuan dari kehidupan sehari-hari masyarakat terkait sistem transportasi Kota Makassar yang mendorong perumusan kebijakan transportasi inklusif berkelanjutan.
Dalam diskusinya, seorang penulis menjelaskan bahwa “Kiri Depan Daeng” adalah refleksi perjalanan pemikiran dan pergerakan kaum kiri di Sulawesi Selatan, terutama dalam konteks perlawanan terhadap ketidakadilan sosial. Buku ini memaparkan sejarah perjuangan tokoh-tokoh lokal yang berani menyuarakan kepentingan rakyat kecil di tengah dinamika politik nasional. “Saya menulis buku ini sebagai upaya untuk merangkum sejarah yang seringkali terlupakan, terutama dari perspektif kaum yang termarjinalkan,” ujarnya.
Buku ini terdiri dari berbagai catatan pengalaman dan pengetahuan warga Kota Makassar tentang transformasi Kota Makassar yang dilihat dari kacamata kebutuhan bergerak dan berkendara di kota, serta evolusi moda transportasi publik merespon hal ini. Hal ini penting diperhitungkan dalam upaya menelusuri temuan-temuan dari kehidupan sehari-hari masyarakat terkait sistem transportasi Kota Makassar yang mendorong perumusan kebijakan transportasi inklusif berkelanjutan.
Diskusi berlangsung hangat dengan berbagai tanggapan kritis dari para peserta. Beberapa mahasiswa menyoroti relevansi pemikiran kiri dalam kondisi sosial saat ini, khususnya terkait isu-isu ketimpangan ekonomi dan kebebasan berpendapat. Salah seorang peserta, mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya, mengungkapkan bahwa buku ini membuka wawasannya tentang sejarah pergerakan dan tata kota di daerahnya. “Kajian ini memberikan perspektif baru tentang bagaimana perjuangan sosial bisa dihubungkan dengan situasi kontemporer,” ujarnya.
Di akhir acara kajian buku ini Anshar Saud, sekretaris Perpustakaan Universitas Hasanuddin berharap dapat mendorong lebih banyak mahasiswa untuk membaca dan mengkaji buku-buku dengan tema kritis dan historis. Perpustakaan Universitas Hasanuddin berencana mengadakan lebih banyak diskusi literatur untuk memperkaya wacana intelektual di kalangan akademisi dan mahasiswa.
——-